Kamis, 16 Maret 2017

KESENIAN DEBUS

DEBUS






Di Indonesia terdapat berbagai macam suku dengan budayanya masing-masing. Sebagai warga Indonesia, sudah sepatutnya kita mengetahui dan melestarikan budaya di Indonesia. Untuk apa kita marah jika ada Negara lain yang hendak mengambil kebudayaan kita, jika kita sendiri tidak ada keinginan untuk melestarikannya. Jangankan untuk melestarikannya, mengenal saja kadang kita malu. Budaya Indonesia sekarang sudah banyak tersisihkan oleh budaya asing. Oleh karena itu, mari kita mulai mengenal budaya kita sendiri.
Salah satu budaya yang unik dari sekian banyak budaya di Indonesia adalah Kesenian Debus. Debus merupakan kesenian bela diri dari Banten yang mempertunjukan kemampuan manusia yang luar biasa, misalnya kebal senjata tajam, kebal air keras dan lain- lain. Debus lebih dikenal sebagai kesenian asli masyarakat Banten, yang mungkin berkembang sejak abad ke-18. Menurut sebagian banyak sumber sejarah, kesenian debus Banten bermula pada abad 16 masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin (1532-1570). Debus mulai dikenal pada masyarakat Banten sebagai salah satu cara penyebaran agama Islam. Namun ada juga yang menyebutkan Debus berasal dari daerah Timur Tengah bernama Al-Madad yang diperkenalkan ke daerah Banten ini sebagai salah satu cara penyebaran Islam pada waktu itu. Yang lainnya menyebutkan bahwa debus berasal dari tarekat Rifa’iyah Nuruddin al-Raniri yang masuk ke Banten oleh para pengawal Cut Nyak Dien (1848—1908).
Debus dalam bahasa Arab berarti tongkat besi dengan ujung runcing. Bagi sebagian masyarakat awam kesenian Debus memang terbilang sangat ektrim. Pada masa sekarang Debus sebagai seni beladiri banyak dipertontonkan  untuk acara kebudayaan, upacara adat ataupun hiburan. Pada masa Sultan Ageng Tirtayasa (1651—1692 M) Debus menjadi sebuah alat untuk memompa semangat juang rakyat banten melawan penjajah Belanda.
Belakangan ini, Kesenian Debus merupakan kombinasi antara seni tari, suara serta seni yang menyangkut kekhusyuan batin dengan nuansa magis. Karena merupakan alat penyebaran agama Islam, pada zaman dulu kesenian ini dimulai dengan lantunan sholawat dan puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW.



Kesenian Debus yang sering dipertontonkan di antaranya:
  • ·         Menusuk perut dengan tombak atau senjata tajam lainnya tanpa terluka.
  • ·         Mengiris bagian anggota tubuh dengan pisau atau golok.
  • ·         Memakan api.
  • ·         Menusukkan jarum kawat ke lidah, kulit pipi atau anggota tubuh lainnya hingga tebus tanpa mengeluarkan darah.
  • ·         Mengiris anggota tubuh hingga terluka dan mengeluarkan darah namun dapat disembuhkan seketika dengan hanya mengusapnya saja.
  • ·         Menyiram tubuh dengan air keras hingga pakaian yang dikenakan hancur lumat namun kulit tetap utuh.
  • ·         Menggoreng telur di atas kepala.
  • ·         Membakar tubuh dengan api.
  • ·         Menaiki atau menduduki susunan golok tajam.
  • ·         Bergulingan di atas serpihan kaca atau beling.


Tokoh Debus modern saat ini adalah Tubagus Barce Banten atau Abah Barce, kabarnya beliau selalu menjadi penasihat spritual untuk tokoh-tokoh politik terkenal  dan dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit yang tidak dapat disembuhkan dunia kedokteran. Beliau juga sangat berperan memperkenalkan kesenian Debus hingga ke mancanegara seperti Australia, Jepang, Amerika Serikat, Jerman, Malaysia, Belanda dan Spanyol.
Menurut pria yang mendapat gelar doktor kehormatan dari Universitas Amsterdam Belanda pada tahun 1985 ini, Debus tidak ada kaitannya sama sekali dengan ilmu sihir atau magis karena hal itu merupakan perbuatan Syirik (menyeketukan Allah) dan beliau menegaskan bahwa Debus digunakan pada zaman dahulu untuk melawan kolonial Belanda.

Terlepas dari itu semua, kesenian Debus memang sangat berpotensi untuk mengangkat industri pariwisata Banten dimata nasional dan dunia. Atraksi kesenian ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para turis dan wisatawan lokal.



       Sumber :
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Debus
  • http://setiayudha.weebly.com/seni-debus.html
  • google.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar